Selasa, 25 Desember 2012

Andai Kamu Tahu

Tahukah kamu? Di hari-hari yang lalu, kemarin dan kemarinnya lagi dan kemarinnya kemarin lagi, kamu sempet ngisi hatiku, sosokmu selalu nongol di mimpiku, dan namamu nggak pernah absen dari pikiranku. Mata ini nggak bisa lari dari bayangmu. Entah emang kamu nggak sadar atau cuma perasaanku aja, tapi kamu emang nggak tau. Mana bisa kamu tau soal ini, coba? Dan entah kamu yang nggak bisa pergi atau emang nggak mau pergi dari kalbuku. Perasaan ini udah penuh kamu isi sampe bahkan nggak ada lagi sisa sedikitpun buat jadi celahmu lagi, apalagi buat orang lain.

Kata mereka, mencintai itu anugerah Sang Rabb yang fitrah. Tapi entah kenapa kayaknya ada yang salah. Ya Rabb, benarkah perasaan seperti ini? Aku bingung mau nanya ke siapa lagi, mau nanya apa lagi, harus gimana lagi. Toh, orang yang paling nggak mungkin aku datengin adalah kamu sendiri. Nggak soal yang satu ini. Aku sadar diri. Aku ini lho siapa...mu. Siapa?

Aku menyerah, aku berserah. Akhirnya aku bersujud dan berdoa pada empunya hidup, hulu dan hilir dari segala cinta. Aku ceritain soal kamu ke Sang Rabb. Aku minta ketenangan, keterangan, pertolongan, dan jawaban.

Ya Allah, hamba tak tahu apa maksud dari perasaan ini. Jika memang mencintai itu fitrah, maka tunjukkanlah yang terbaik. Hambamu ini tak mungkin meramal takdir, dan hamba tak mengerti apa nasib hamba kelak, namun hamba hanya bisa menjalani apa yang Kau berikan. Ampuni hamba-Mu, Ya Rabb.
Hamba tidak tahu akan berjodoh dengan siapa nanti. Namun siapapun itu, Ya Allah, dekatkan hamba dengan orang yang mencintai-Mu. Agar jika kami saling mencintai, cinta itu semata-mata karena-Mu, Ya Rabb. Dekatkan kami dengan jalan yang baik, dengan jalan penuh ridha-Mu, sehingga kami saling melindungi dan mencintai karena Engkau, Ya Allah. Jika memang ia lah nanti imamku, kuatkan perasaanku ini padanya, dan semoga cinta ini saling bersambut, membuat kami selalu mengingat-Mu dan terus memuja-Mu. Namun Ya Allah, jika kami memang tak berjodoh, maka hilangkanlah bayangnya dan hapuslah namanya dari pikiran hamba-Mu ini. Jangan biarkan sosoknya mengisi seluruh relung kalbu agar hamba tak melupakan-Mu. Hamba yakin, sesungguhnya cinta dari-Mu adalah fitrah, Ya Allah. Engkaulah hulu dan hilir dari segala cinta. Hamba hanyalah manusia, dan Engkau lah tempat bertumpu. Bumi-Mu tempat hamba berpijak dan langit-Mu tempat hamba berteduh.

Kini tinggal aku dan Allah yang tau ke mana perasaan ini mengarah. Akankah berhenti, atau terus mengalir? Sementara kamu sendiri masih belum tau apa-apa soal jiwa yang kamu buat gila ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar