Tahukah kamu? Di
hari-hari yang lalu, kemarin dan kemarinnya lagi dan
kemarinnya kemarin lagi, kamu sempet ngisi hatiku, sosokmu selalu nongol
di mimpiku, dan namamu nggak pernah absen dari pikiranku. Mata ini nggak bisa
lari dari bayangmu. Entah emang kamu nggak sadar atau cuma perasaanku aja, tapi
kamu emang nggak tau. Mana bisa kamu tau soal ini, coba? Dan entah kamu yang nggak bisa pergi atau emang nggak mau pergi
dari kalbuku. Perasaan ini udah penuh kamu isi sampe bahkan nggak ada
lagi sisa sedikitpun buat jadi celahmu lagi, apalagi buat orang lain.
Kata mereka,
mencintai itu anugerah Sang Rabb yang fitrah. Tapi entah kenapa kayaknya ada
yang salah. Ya Rabb, benarkah perasaan seperti ini? Aku bingung mau nanya ke
siapa lagi, mau nanya apa lagi, harus gimana lagi. Toh, orang yang paling nggak
mungkin aku datengin adalah kamu sendiri. Nggak soal yang satu ini. Aku sadar
diri. Aku ini lho siapa...mu. Siapa?
Aku menyerah,
aku berserah. Akhirnya aku bersujud dan berdoa pada empunya hidup, hulu dan
hilir dari segala cinta. Aku ceritain soal kamu ke Sang Rabb. Aku minta
ketenangan, keterangan, pertolongan, dan jawaban.
Ya Allah, hamba
tak tahu apa maksud dari perasaan ini. Jika memang mencintai itu fitrah, maka
tunjukkanlah yang terbaik. Hambamu ini tak mungkin meramal takdir, dan hamba
tak mengerti apa nasib hamba kelak, namun hamba hanya bisa menjalani apa yang
Kau berikan. Ampuni hamba-Mu, Ya Rabb.
Hamba tidak tahu
akan berjodoh dengan siapa nanti. Namun siapapun itu, Ya Allah, dekatkan hamba
dengan orang yang mencintai-Mu. Agar jika kami saling mencintai, cinta itu
semata-mata karena-Mu, Ya Rabb. Dekatkan kami dengan jalan yang baik, dengan
jalan penuh ridha-Mu, sehingga kami saling melindungi dan mencintai karena
Engkau, Ya Allah. Jika memang ia lah nanti imamku, kuatkan perasaanku ini
padanya, dan semoga cinta ini saling bersambut, membuat kami selalu
mengingat-Mu dan terus memuja-Mu. Namun Ya Allah, jika kami memang tak
berjodoh, maka hilangkanlah bayangnya dan hapuslah namanya dari pikiran
hamba-Mu ini. Jangan biarkan sosoknya mengisi seluruh relung kalbu agar hamba
tak melupakan-Mu. Hamba yakin, sesungguhnya cinta
dari-Mu adalah fitrah, Ya Allah. Engkaulah hulu dan hilir dari segala cinta.
Hamba hanyalah manusia, dan Engkau lah tempat bertumpu. Bumi-Mu tempat hamba
berpijak dan langit-Mu tempat hamba berteduh.
Kini tinggal aku
dan Allah yang tau ke mana perasaan ini mengarah. Akankah berhenti, atau terus
mengalir? Sementara kamu sendiri masih belum tau apa-apa soal jiwa yang kamu
buat gila ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar