Fitstly, maaf buat yang udah nungguin postingan kocak tapi bulan-bulan ini kayaknya aku shift galau deh (._. ) Ya sek nanti kocaknya tak lanjut, udah ada stok kok ._. Tapi ini aku
mau ngepost sesuatu yang lain (?) dulu.
Just want to share a bit... or maybe less much.
I'm in confusion. And I just need to... share.
I need to talk but words can't come out of myself so here I
am, writing this.
Akhir-akhir ini, entah kenapa, aku banyak tau. Mungkin kalo
kata Novitasari, Ketua II MPK, sih itu epek aku anak Joer-V. Jurnalis kan harus
tau banyak gitu. Okelah, kalo soal info-info gitu emang udah seharusnya aku
tau, tapi kalo yang sifatnya info BUKAN buat umum?
I don't know if I deserve to know those things or not.
Selalu kalo nanya orang, first impression mereka cuma satu:
aku ini CEREWET. Ya emang seh aku cerewet, doyan banget banyak omong, but
that's... me. Aku emang tipe orang yang paling nggak bisa disuruh diem dan kalo
ngalamin apa-apa pengennya langsung cerita. Yang tak ceritani yo... bisa apa
aja, ke siapa aja. Tapi akhir-akhir ini, aku ngalamin keadaan yang vice versa.
Unexpectedly, people started coming to me, recently.
Kebanyakan mereka nggak curhat session, but they just began telling their
stories, and I was just a good listener. Aku nggak minta mereka buat cerita,
tapi ya... moro-moro keluar gitu. Tanpa angin, tanpa hujan, tanpa sebab.
Ya banyak. Dari yang emang deket sampe yang nggak aku expect
sama sekali. Mulai dari adek kelas, temen jauh, temen seangkatan, sampe kakak
kelas. Dan cerita-ceritanya... unexpected. Mulai dari soal keluarga, soal
sekolah, soal SS, sampe... soal hati. It's not just a person, but so many, and
their stories vary.
Orang yang tertutup pun bendungannya tiba-tiba jebol di
depanku.
Cerita yang berasa kayak rahasia negara malah dikasih tau ke
aku.
Aku juga jadi tau banyak yang harusnya aku nggak tau, nggak
perlu tau, dan nggak boleh tau.
I know many details of things which are out of my business.
I know what people tried hard to hide from others, and it's
only me knowing.
Orang yang aku tau dia pendiam banget dan pinter mendem
cerita, eh malah tiba-tiba nangis di depanku dan rahasia yang udah lama dia
simpen dari publik... cuma aku yang tau. Dia bahkan juga nggak ngerti kenapa
dia tiba-tiba bisa cerita ke aku, padahal menurutnya selalu sulit buat
ngungkapin kisah itu.
I never expect this.
Aku bingung. I asked them, why did they tell me and what was
their reason. Know the answer? They didn't even know why they did. Mereka
cerita, nggak minta solusi, dan aku cuma bisa nanggepin sekenanya. Dan setelah
tak renungi... Ya mungkin ini ya yang dimaksud untuk ‘terus berada di tempatku
sekarang’. Ya ini tempatku. Mulai sekarang, aku jadi tempat sampah mereka, buat
cerita-cerita mereka. Aku nggak keberatan, ya tapi bingung aja.
Masalahnya, posisi sebagai 'tempat sampah' ini kadang bikin
aku bingung. Duh, bingung maneh, bingung tok ae. Sebenernya aku cuma
mendengarkan, tapi karena hal-hal yang aku denger nggak harus aku tau, ya...
posisiku selalu serba salah. Nggak enak sama pihak-pihak lain dari si
pencerita, terus takut dikiranya aku kepo atau sok tau atau suka ikut campur
padahal... Nggak, aku nggak maksud. Buat apa capek-capek nyari tau yang nggak
perlu aku tau?
Why me? God says, ‘Why not?’
Ok, I never expect this, but this is where I belong, I
guess..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar